Sinergi Kemanusiaan HISSI dan STAI Siliwangi Garut Pulihkan Senyum Anak-Anak Manggarai NTT

MANGGARAI BARAT, NTT — Guncangan gempa bumi tidak pernah hanya meninggalkan jejak kehancuran pada bangunan fisik semata. Jauh di balik retakan dinding dan atap yang runtuh, tersimpan trauma psikologis yang membekas, terutama pada jiwa anak-anak yang belum sepenuhnya memahami mengapa bumi yang mereka pijak tiba-tiba bergetar hebat. Di tengah masa-masa pemulihan yang sarat akan duka di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada akhir 2026 ini, secercah cahaya harapan datang dari ribuan kilometer jauhnya, membawa pesan bahwa persaudaraan dan kemanusiaan tidak pernah mengenal batas wilayah maupun samudera.

Sebuah inisiatif kemanusiaan yang lahir dari kolaborasi erat antara Himpunan Ilmuwan dan Sarjana Syariah Indonesia (HISSI) dengan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Siliwangi Garut membuktikan bahwa empati mampu bergerak lebih cepat dari sekadar simpati lisan. Mengusung tajuk besar “Peduli Gempa NTT: Kolaborasi untuk Saudara Kita di NTT,” rombongan relawan turun langsung ke titik-titik paling terdampak untuk menyalurkan amanah donasi, mengusap air mata, dan mengembalikan keceriaan anak-anak Manggarai Barat.

Penyaluran dana donasi yang telah digalang oleh Keluarga Besar HISSI ini diserahkan dan diamanahkan kepada tim pelaksana dari STAI Siliwangi Garut. Bantuan tersebut tidak sekadar diwujudkan dalam bentuk materi, melainkan ditransformasikan menjadi program-program penyembuhan psikologis dan pemulihan mental berbasis pendekatan keagamaan serta edukasi yang ramah anak.

Dua Putra Daerah Pulang Kampung Membawa Cahaya

Ada cerita yang sangat inspiratif di balik pelaksanaan program trauma healing ini. Penggerak utama di lapangan bukanlah orang asing yang meraba-raba medan, melainkan dua orang pemuda asli Manggarai, NTT, yang tengah merantau untuk menuntut ilmu di Tanah Pasundan. Mereka adalah Abdul Madjin dan Hisnun Hasin, dua mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) di STAI Siliwangi Garut.

Keduanya bukanlah mahasiswa biasa. Abdul Madjin dan Hisnun Hasin merupakan penerima beasiswa khusus bergelar “Mahasantri Dai Tani”. Program beasiswa ini mendidik pesertanya tidak hanya menjadi sarjana agama yang mumpuni, tetapi juga memiliki keterampilan agrikultural (bertani) dan kemampuan berdakwah yang membumi. Ketika mendengar tanah kelahiran mereka diguncang gempa, panggilan jiwa untuk mengabdi tidak dapat dibendung.

Berbekal dana donasi dari HISSI yang disalurkan pada tanggal 20 September 2026, serta arahan dari kampus STAI Siliwangi Garut, Abdul dan Hisnun terbang kembali ke Manggarai Barat. Mereka mengubah liburan atau waktu belajar mereka menjadi medan pengabdian. Menggunakan jaket almamater kebanggaan berwarna biru, mereka menapaki jalan-jalan berdebu dan berbatu di pedesaan Manggarai Barat, memastikan setiap rupiah donasi dari Keluarga Besar HISSI tepat sasaran dan memberikan dampak emosional yang positif.

Menyemai Senyum di Tujuh Titik Harapan

Pelaksanaan kegiatan yang berlangsung sejak tanggal 28 September hingga 2 Oktober 2026 ini dirancang dengan sangat terstruktur. Alih-alih membagikan bantuan secara acak yang berpotensi menimbulkan kerumunan yang tidak kondusif, tim relawan STAI Siliwangi Garut menargetkan 7 titik lokasi spesifik yang terdiri atas 5 lembaga pendidikan/keagamaan tingkat dasar dan 2 lokasi pembagian makanan siap saji atau “Jumat Berkah”.

Fokus utama dari kegiatan di lembaga pendidikan adalah Trauma Healing. Trauma akibat gempa seringkali bermanifestasi dalam bentuk ketakutan berlebih, gangguan tidur, hingga hilangnya minat belajar pada anak-anak. Menyadari hal ini, Abdul dan Hisnun tidak datang dengan wajah tegang atau ceramah panjang, melainkan dengan permainan (games), perlombaan ringan yang menghibur, serta hadiah-hadiah yang dinantikan oleh anak-anak.

Rute pengabdian mereka menyisir dua kecamatan utama di Kabupaten Manggarai Barat, yakni Kecamatan Komodo dan Kecamatan Mbeliling, yang mencakup institusi-institusi berikut:

  1. PAUD At-Taqwa, Marombok, Golo Bilas, Kecamatan Komodo. Di sini, anak-anak usia dini yang paling rentan terhadap trauma diajak bernyanyi dan bermain bersama.
  2. PAUD Sejahtera, Ndewel, Golo Ndoal, Kecamatan Mbeliling. Pendekatan serupa dilakukan, memastikan ruang kelas darurat mereka kembali dipenuhi tawa ceria.
  3. TPQ Nur Hasanah, Mamis, Liang Dara, Kecamatan Mbeliling. Di taman pendidikan Al-Qur’an ini, relawan mengadakan Lomba Tahfidz Al-Qur’an (hafalan surah-surah pendek). Tujuannya adalah mengembalikan mentalitas keberanian anak-anak untuk tampil ke depan.
  4. TPQ Al-Ikhlas, Merombok, Golo Bilas, Kecamatan Komodo. Suasana haru dan gembira menyelimuti tempat ini ketika relawan membagikan aneka snack dan mainan sebagai bentuk apresiasi bagi anak-anak yang berani unjuk gigi melantunkan ayat suci.
  5. MIS Nurul Iman, Ndewel, Golo Ndoal, Kecamatan Mbeliling & MIS Insan Kamil Nggorang, Kecamatan Komodo. Pada tingkat madrasah ibtidaiyah ini, sesi trauma healing dilakukan dengan pendekatan permainan interaktif yang melatih kekompakan serta memupuk kembali rasa saling percaya di antara teman sebaya pascabencana.

Dalam berbagai dokumentasi lapangan, terlihat jelas bagaimana raut wajah anak-anak yang awalnya murung berubah menjadi sumringah. Berlatar belakang spanduk bertuliskan “Peduli Gempa NTT – Kemanusiaan Menyatukan Kita”, anak-anak dari berbagai usia tampak berpose dengan riang sambil mengangkat bingkisan snack dan makanan ringan yang mereka terima. Di salah satu ruang kelas dengan dinding bernuansa hijau cerah yang masih tersisa, relawan berseragam jaket biru dari STAI Siliwangi secara simbolis menyerahkan paket bantuan edukatif kepada perwakilan guru atau pengurus yayasan setempat, disaksikan oleh murid-murid yang duduk rapi di atas karpet.

Menganyam Kebersamaan di Atas Sajadah Melalui “Jum’at Berkah”

Selain memberikan perhatian penuh pada aspek psikologis anak-anak, donasi HISSI dan STAI Siliwangi Garut juga menyentuh kebutuhan dasar masyarakat, yakni pangan. Mengambil momentum hari Jumat yang penuh kemuliaan, tim relawan menyelenggarakan program pembagian Nasi Jumat Berkah di dua titik lokasi, yaitu:

  1. Pembagian Nasi Jumat Berkah di Mamis, Liang Dara, Kecamatan Mbeliling.
  2. Pembagian Nasi Jumat Berkah di Nggorang, Kecamatan Komodo.

Kegiatan ini tidak hanya sekadar membagikan makanan kotak, tetapi menjadi ajang silaturahmi dan penguatan spiritual bagi warga terdampak. Terlihat warga berkumpul di dalam musala dan masjid darurat, duduk melingkar di atas karpet dan sajadah seadanya. Para bapak, pemuda, hingga anak-anak kecil berpeci tampak duduk khusyuk membuka kotak-kotak makanan (styrofoam) berwarna putih yang dibagikan oleh panitia.

Suasana kebersamaan ini menjadi semacam terapi kelompok (group therapy) alami bagi warga. Mengingat di tengah keterbatasan fasilitas dan bahan pangan pascagempa, bisa duduk bersama, berdoa, dan menikmati hidangan nasi kotak yang bergizi menjadi sebuah kemewahan yang sangat disyukuri. Di sela-sela kegiatan makan bersama, relawan menyisipkan pesan-pesan moral, tauhid, dan penguatan mental (tausiyah) agar masyarakat Manggarai Barat tetap tabah, sabar, dan tidak berputus asa dari rahmat Sang Pencipta.

Sinergi yang Melampaui Sekat Demografi

Keberhasilan program di Manggarai Barat ini tentu tidak lepas dari dukungan penuh struktur kepemimpinan dari kedua belah pihak. Bagi Himpunan Ilmuwan dan Sarjana Syariah Indonesia (HISSI), kolaborasi ini merupakan manifestasi dari komitmen intelektual dan kepedulian sosial kaum sarjana syariah terhadap persoalan umat.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) HISSI, Ahmad Azharuddin Lathif, secara khusus memberikan pernyataan resminya terkait kesuksesan misi kemanusiaan ini. Beliau menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang terlibat di lapangan.

“Kami dari Keluarga Besar HISSI mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ketua STAI Siliwangi Garut, Dr. Illa Susanti, M.Pd., beserta segenap tim relawan dan mahasiswa yang telah berjuang keras di medan NTT. Dedikasi saudara Abdul Madjin dan Hisnun Hasin di lapangan sangat luar biasa. Terselenggaranya kegiatan distribusi, trauma healing, hingga program Jumat Berkah ini adalah bukti nyata dari sinergi kita semua,” ungkap Azharuddin Lathif.

Lebih lanjut, beliau menambahkan doa dan harapannya, “Semoga bantuan yang mungkin nilainya tidak seberapa ini mampu membawa manfaat yang riil bagi masyarakat yang terdampak gempa. Kami juga mendoakan agar seluruh keringat dan upaya tim STAI Siliwangi mendapatkan balasan setimpal berupa pahala dan keberkahan dari Allah SWT.”

Di tempat terpisah, Ketua STAI Siliwangi Garut, Dr. Illa Susanti, M.Pd., juga menyambut baik dan merasa sangat bersyukur atas kelancaran program kemitraan strategis ini. Bagi STAI Siliwangi, ini bukan kali pertama mereka mendapat amanah besar dari perkumpulan ilmuwan dan sarjana syariah bergengsi seperti HISSI.

“Saya mewakili institusi mengucapkan rasa terima kasih yang tak terhingga atas kepercayaan Himpunan Ilmuwan dan Sarjana Syariah Indonesia (HISSI) untuk yang kedua kalinya kepada kami. Sebelumnya, kami juga bahu-membahu merespons bencana gempa bumi di Cianjur. Dan kini, kepercayaan itu kembali diberikan untuk menyalurkan amanah donasi ke wilayah Nusa Tenggara Timur,” tutur Dr. Illa Susanti.

Dr. Illa Susanti juga menekankan bahwa visi kampus STAI Siliwangi Garut yang termaktub dalam slogan “Sinergi dalam Harmoni Keragaman Untuk Kemaslahatan” benar-benar terefleksikan melalui program kolaborasi ini. “Mudah-mudahan kerjasama dan ikatan ukhuwah ini tidak berhenti sampai di sini, melainkan bisa berkelanjutan dalam berbagai program kemanusiaan, dakwah, maupun pendidikan di masa yang akan datang. Kemanusiaan adalah bahasa universal yang mampu menyatukan kita, melampaui perbedaan wilayah dan latar belakang,” pungkasnya.

Membangun Bangsa dari Puing yang Tersisa

Rangkaian kegiatan yang diinisiasi oleh HISSI dan STAI Siliwangi Garut dari tanggal 28 September hingga 2 Oktober 2026 di Kabupaten Manggarai Barat ini telah resmi ditutup, namun resonansi kebaikannya akan terus bergema di hati masyarakat. Bagi anak-anak di PAUD At-Taqwa hingga TPQ Nur Hasanah, kehadiran Kak Abdul Madjin dan Kak Hisnun Hasin akan selalu dikenang sebagai oase yang mendinginkan panasnya trauma bencana.

Kerja sama kemanusiaan ini memberikan pelajaran berharga bagi publik di tanah air. Bahwa di era modern yang kerap ditandai dengan individualisme, gotong royong dan empati masih menjadi fondasi terkuat bangsa Indonesia. Mahasantri Dai Tani membuktikan bahwa pendidikan tidak hanya mengasah ketajaman intelektual di ruang-ruang kelas, tetapi juga menuntut kepekaan nurani untuk turun langsung membasuh luka masyarakat.

Gempa bumi mungkin telah meruntuhkan beberapa dinding sekolah di Manggarai Barat, tetapi berkat sinergi dari pihak-pihak seperti HISSI dan STAI Siliwangi Garut, fondasi mental dan spiritual generasi muda di sana kini justru sedang dibangun kembali dengan jauh lebih kuat. Harapan untuk NTT bangkit kembali kini bukan sekadar slogan di atas pamflet, melainkan realita yang sedang diperjuangkan bersama.

(Penulis: Tim Redaksi HISSI – STAIS).

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *